BLOG CIVITAS AKADEMIKA ILMU PENGELOLAAN HUTAN

Cool Text: Logo and Graphics Generator CIVITAS AKADEMIKA ILMU PENGELOLAAN HUTAN

Senin, 09 Mei 2016

ARTI PENTING HUTAN TANAMAN ENERGI BAGI KETAHANAN ENERGI NASIONAL

KENAPA KITA PERLU HUTAN TANAMAN ENERGI (BIOGAS DAN BIOFUEL)
Dr. Ir. Bambang Tri Hartono, MF.



Bagaimana status pengelolaan energy fossil Indonesia?
Energi merupakan kebutuhan dasar bagi kehidupan masyarakat, bangsa dan Negara di dunia ini. Setiap penduduk Indonesia membutuhkan 14,8 barel minyak atau 2353,2 liter/orang/tahun. Pada tahun 2014 kebutuhan bahan bakar minyak mencapai 3.791 juta barel minyak dan terus meningkat menjadi 4.041 juta barel minyak di tahun 2025. Mengantisipasi hal tersebut, Pemerintah telah menetapkan APBN untuk subsidi bahan bakar lebih dari 246 trilyun rupiah di tahun 2014. Angka ini diproyeksi terus meningkat mengikuti laju pertumbuhan penduduk dan laju pertumbuhan ekonomi sebesar 7,1%. Diproyeksikan 270 trilyun rupiah di tahun 2025 (asumsi harga jual bahan bakar minyak tetap =  Rp. 10.337/liter). Kebutuhan ini tidak dapat dipenuhi jika hanya mengandalkan potensi minyak bumi yang dimiliki. Saat ini produksi minyak Indonesia mencapai 800.000 barrel/hari atau 292 juta barrel/tahun. Jika dibandingkan dengan permintaan maka terdapat selisih sekitar 3.499 juta barrel. Selisih ini dipasok dari impor sebesar 9,6 juta barrel/hari.  Permasalahan ini makin meruncing mengingat stok minyak bumi semakin menipis. Kementerian ESDM memperkirakan 22 tahun kemudian, bahkan ada yang memprediksi tidak sampai 15 tahun stok minyak bumi habis, sementara gas alam akan habis pada 53 tahun kemudian dan batubara pada 83 tahun kemudian.


Silahkan klik link download untuk memperoleh full artikel ini

Minggu, 08 Mei 2016

Dinamika Penutupan Areal Berhutan: Sintesa Forest Resource Assessment (FRA) 2015

By

Lutfy Abdulah


1.       Definisi Hutan

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini ikut mempengaruhi cara pandang masyarakat dunia terhadap keberadaan hutan. Hutan sebagai sumber kehidupan dan penghidupan masyarakat dunia. Dengan hutan, iklim bumi dapat dikendalikan dari perubahan yang drastic dan terjadi dalam suatu kurun waktu yang tidak terkontrol, serta hutan merupakan sumber pangan, obat-obatan, air, udara bersih, sandang, pangan, energy dan lain sebagainya. Arti penting hutan mendorong isu pelestarian lingkungan dewasa ini terus dibahas agar keberadaan hutan sebagai suatu ekosistem bumi terus dijaga dan dilestarikan dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran umat manusia. Sebagaimana diatur dalam Batang Tubuh Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 33 ayat 3.

Keragaman cara memandang hutan akan mempengaruhi isi yang harus terdapat dalam hutan itu sendiri. 

Lund (2008) menemukan lebih dari 800 definisi hutan. Menurut (UNEP, 2016) bahwa definisi hutan berdasarkan negara atau wilayah di bumi ini sangat berbeda bergantung pada ketinggian tempat, suhu, pola curah hujan, komposisi tanah dan aktivitas manusia serta siapa yang memberikan definisi tersebut. Adapun definisi hutan berdasarkan sumber adalah sebagai berikut:
       1)      Hutan merupakan suatu unit lahan dengan luas minimum antara 0,05 – 1,0 ha dengan tutupan tajuk pohon minimal (atau sama dengan tingkat stok) lebih dari 10-30%  dan tinggi pohon dewasa mencapai 2-5 meter (FAO, 2006 dalam Kyoto Protocol);
        2)      Hutan merupakan lahan dengan luas minimum 0,5 ha—1 ha, dengan tutupan tajuk pohon 20% di Negara berkembang dan 10% di Negara maju (FAO, 2006 dalam Forest Resources Assement Tahun 1990-2000);
     3)     Hutan bukanlah terkait peruntukkan lahan, melainkan terkait dengan sebidang lahan yang didominasi vegetasi (Verchoot et al., 2005) dalam FAO, 2006);
      4)      Hutan merupakan suatu lahan dengan luas minimal 0,5 ha dan bertutupan tujuk pohon minimal 10% ( atau kombinasi dengan semak belukar) dan tinggi pohon mencapai 5 m (FAO, 2012 dalam FRA, 2015);
     5)      Hutan merupakan suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan (UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan);
     6)      Di Filipina mendefinisikan hutan jika terdapat vegetasi pada daerah dengan tingkat kelerengan >18%. 
     7). Sementara di Spanyol, Finlandia, Norwegia dan Swedia mendefinikan daerah yang tidak dikatakan hutan jika daerah bervegetasi namun produktivitasnya dibawah atau sama dengan 1 m3/ha/tahun. Sementara di Irlandia, dikatakan hutan jika produktivitas lebih besar dari 4 m3/ha/tahun (Putz dan Redford, 2010)

Berdasarkan ragam cara pandang tentang definisi hutan di atas, dapat diambil beberapa kata kunci terkait definisi hutan itu sendiri. Suatu daerah dikatakan hutan jika terdapat dalam suatu satuan lahan yang kompak (minimal 0,05 ha), didominasi pepohonan (produktivitas minimal 4 m3/ha/tahun) dengan tinggi minimal 5 m dan tutupan tajuk minimal 10%, berada pada daerah dengan tingkat kelerengan lebih besar dari 18% serta terdapat hubungan interaksi yang sangat kuat dan saling mempengaruhi membentuk suatu kesatuan ekosistem.

2.       Statistik Tutupan Areal Berhutan Dunia

FAO (Food and Agriculture Organization) untuk menginventarisir luas tutupan areal berhutan dunia. Dalam satu kegiatan yang disebut FRA (Forest Resources Assessment). Dalam penyusunan FRA, definisi hutan yang digunakan adalah area dengan luas minimal 0,5 ha dan terdapat pohon dengan tinggi minimal 5 meter dan tutupan tajuk mencapai 10%. Hutan kota, kebun buah atau pola agroforestry tidak termasuk dalam perhitungan hutan. Berdasarkan FRA 2015, total luas area berhutan mencapai 3,952 milyar hektar atau dengan rata-rata 16,7 juta hektar. Adapun total luas hutan dunia disajikan pada Gambar berikut


Hutan bersifat dinamis, terdapat penambahan dan pengurangan area berhutan. Berikut total luas penambahan (Afforestation) dan pengurangan luas area berhutan (Deforestation).




 Berdasarkan Gambar luas tutupan areal berhutan dan laju deforestasi maka dapat dilihat kecenderungan bahwa laju deforestasi menurun karena area bertutupan hutan di dunia ikut menurun. Laju penurunan (flow) disebabkan oleh kondisi stock hutan yang sudah semakin rendah. Hal ini terlihat pada tabel berikut:
   Tahun 
1990 2000 2005 2010 2015
 Luas     Total Hutan Dunia        4,128,271,000       4,055,605,000       4,032,746,000       4,015,673,000      3,999,134,000
  Jumlah Perubahan              (72,666,000)           (22,859,000)          (17,073,000)          (16,539,000)

Pertanyaan yang kemudian adalah berbagai upaya untuk meningkatkan simpanan karbon (enhanching karbon stock) melalui pembangunan pool karbon di daratan dalam skema REDD+ (terkahir COP21 Paris) berjalan sampai dimana? apakah kemudian, enhanching karbon stock di bumi ini melalui pembangunan non-hutan (seperti sawit, hortikultura dll)?  

Pertanyaan ini muncul ketika harapan untuk menggapai nilai manfaat lingkungan dari hutan mulai meredup. Upaya untuk mempertahankan luas dan isi area berhutan namun belum mempertimbangkan nilai manfaat baik untuk skala habitat, ekosistem dan biosfer.

Bibliography

FAO. (2006). Forest And Climate Change Working Paper 4. Rome: FAO.
FAO. (2012). Forest Resources Assessment 2015: Term and Definition. Rome: UNFAO.
Putz, F. E., & Redford, K. H. (2010). The Important of Defining 'Forest': Tropical Forest degradation, Deforestation, Long-Term Phase Shift, And Further Transition. Biotropica 42(1), 10-20.
UNEP. (2016, January 27). WwW.UNEP.Org. Retrieved from Forest Definition and Extent: www.UNEp.org/VitalForest/


Kamis, 27 Februari 2014

A System Dynamics Approach To Balancing Wood Supply And Demand For Sustaining The Future Industry

19th International Congress on Modeling and Simulation
Perth, Australia, 12-16 December 2011

Autors:
Herry Purnomo, Lutfy Abdulah, Rika Harini

Abstract
The Indonesian furniture industry demonstrates a long chain from production to consumption, from tree growers to producers, and retailers to exporters. The furniture industry provides employment and livelihoods
for millions of people. However, an insecure supply of raw materials has produced only poverty and an
unsustainable furniture industry. The methods used in this research employed conceptualization, specification,
evaluation and use of a model. The model describes the wood supply and demand of the furniture industry, state owned and community teak forests, furniture workshops, and domestic and international markets. It simulates tree dynamics, furniture processing, markets and market impacts on sustainability of the industry. We developed “business as usual”, free trade and certification scenarios to understand their impacts on wood and the balance between supply and demand, as well as sustainability of the furniture industry. We recommend scrutinizing plausible impacts prior to the introduction of certification and free trade.

Keywords: furniture, forest, supply, demand, sustainability.

Silahkan Klik DOWNLOAD Untuk mendapatkan full papernya.

Sabtu, 24 Maret 2012

TERGUGAT: UU NO. 41 TAHUN 1999 TENTANG KEHUTANAN

UU No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan selama ini dijadikan sebagai panduan pengelolaan hutan Indonesia.
Namun, seiring dengan semangat pembangunan nasional dan daerah UU ini dianggap sebagai pembatas dan penghalang serta menimbulkan ambiguity dan tidak memperhatikan kepentingan stakeholder yang bersentuhan langsung dengan hutan.

Terlampir saya informasikan 2 gugatan dan hasil putusan MK. Gugatan yang terbaru datang dari 3 organisasi adat yang terdaftar tanggal 20 Maret 2012. Tulisan ini bersifat eksplorasi dan bukan problem solving. Silahkan klik disini untuk membaca tulisan ini.

Demikian dulu ya...semoga bermanfaat. Kalo ada yang perlu didiskusikan dapat bergabung dalam milist iph-ipb@yahoogroups.com atau bila menyampaikan kritik dan saran ke pribadi saya dapat disampaikan ke email saya lutfyabdulah@yahoo.co.id.

Thanks

Rabu, 28 September 2011

Tahukah anda??? CAP AND TRADE CARBON??

“CAP AND TRADE” DALAM CARBON TRADE

Lutfy Abdulah



Dear Rimbawan, pernahkah anda mendengar istilah Cap and Trade Carbon Trade??? Terus terang, karena kurang update informasi, kemarin ketika ada diskusi ada beberapa istilah baru yang muncul dan saya tidak mengerti sama sekali apa itu cap and trade dan apa itu skema carbon offsetting. Saya pun bertanya kepada Mbah Google. Si Mbah menyarankan saya untuk membaca beberapa artikel yang ditulis dalam bentuk HTML ataupun pdf.

Saya yakin temans sudah tahu. Tapi, ga ada salahnya saya ingin menulis agar saya ga lupa (perbanyak postingan blogspot kalo ga dimarahin yang punya)…hehehe…

Shaley Khan dalam tulisan online di http://www.celsias.com/article/carbon-trading-the-basics-part-1-cap-and-trade/ yang diaskes tanggal 27 September 2011, menulis bahwa perdagangan karbon dibagi atas d bentuk yakni yang mandatory dan voluntary. Skema mandatory sering disebut dengan cap and trade., setiap Negara atau perusahaan berusaha untuk mengurangi emisi gas rumah kaca mereka. Kalo voluntary, suatu Negara, perusahaan atau pribadi mereka ingin menurunkan emisi namun tidak perlu syarat-syarat resmi dan mengikat secara hukum.

Dalam situs resmi departemen perlindungan lingkungan USA, cap- and – trade didefinisikan sebagai suatu pendekatan kebijakan untuk mengontrol jumlah emisi dari sejumlah sumber. Cap yakni jumlah emisi maksimum per periode untuk semua sumber yang telah disepakati. Cap dipilih agar mendapatkan dampak lingkungan yang diinginkan. Suatu Negara membayar atas emisi yang ditimbulkan dan kemudian akan mempengaruhi emisi yang dihasilkan dari berbagai sumber dan total sumbangan emisi dari berbagai sumber tersebut tidak melebihi perjanjian yang sudah ditandatangani. Pembayaran emisi dari semua sumber emisi yang disepakati dilakukan diakhir periode. Negara penyedia karbon, menentukan sendiri strategi untuk menyediakan jasa karbon. Strategi yang disusun tidak harus disepakati oleh pembeli jasa karbon, namun yang terpenting mampu menyediakan jasa serapan karbon sebagaimana perjanjian.

Agar program cap and trade bias efektif, terdapat 3 fitur utama yakni 1)cap on emission (menentukan besarnya emisi yang akan diturunkan), 2) akuntability dan 3) rancangan yang simple tapi jalan/operasional.

Dari 3 program utama di atas, cap mengarahkan untuk terciptanya suatu kondisi lingkungan yang sehat dan menjamin kehidupan di masa datang yang baik. Akuntabilita, menghitung secara tepat dan melaporkan emisi yang dapat diserap, teliti dan pelaksanaan yang konsisten dari pinalti akan ketidakakuratan data/informasi yang akan berakibat pada tidak dibayarkannya upaya penciptaan additionality yang ada. 3) Aturan yang dibuat harus jelas dan mudah dilaksanakan. Pasar akan berfungsi lebih baik dan biaya yang lebih rendah ketika aturan yang dibuat jelas dan mudah dipahami oleh semua partisipan. Pelaksanaan program baik itu sumber emisi dan pengaturan kewenangan harus pasti, lebih efektif dan mengurangi biaya serta konsumsi waktu yang efisien, bila aturan yang dibuat tidak mempersulit dan berat untuk dilaksanakan.

Konsumen jasa karbon menyerahkan upaya untuk mengurangi emisi yang dipesan kepada produsen. Kebijakan-kebijakan produsen yang diambil tidak sama sekali diintervensi. Konsumen menginginkan suatu transparansi dan ketelitian dalam mengukur serta reposrting secara verkala. tidak mau tahu dari mana sumber jasa tersebut. Tentunya, ketika produsen yang menawarkan jasa serapan karbon harus memiliki data yang akurat tentang stock dan potensi penurunan stock. Hal ini akan terkait dengan DF (development factor) yang harus disiapkan untuk menghindari leakage.

Kebijakan produsen harus disesuaikan dengan pembayaran jasa karbon. Kesalahan dalam menghitung stock karbon dan ketidakmampuan dalam menentukan harga dasar bukan menjadi tanggung jawab konsumen. MRV (measurement, reporting dan verification) merupakan hal mendasar. Berbagai metode MRV telah ditawarkan. Salah satunya melalui LULUCF (land use, land use change and forestry) sebagaimana dilaporkan dalam IPCC report volume 4 tahun 2007.

Metode pendugaan MRV biss dilakukan dengan metode historical data maupun melalui identifikasi dengan image processing. Tentunya pendugaan MRV dan keakuratan dalam menentukan baseline sangat dipengaruhi oleh kontrak jual beli yang disepakati. Bila kontrak jual lebih kecil dibandingkan dengan biaya transaksi maka peluang kebocoran dan kegagalan kontrak akan sangat besar.

Gejolak yang terjadi akibat strategi penurunan emisi adalah tanggung jawab Negara produsen. Dan gejolak sebagai salah satu sumber leakage yang akan menurunkan peluang income. Hal ini merupakan suatu yang LUCU. Siapa yang membuang kotoran dan siapa yang harus membersihkan sebersih-bersihnya. Ketika tukang sapu tidak membersihkan dengan sempurna maka tukang sapu tersebut tidak dibayar atau bahkan mengembalikan dana yang sudah diberikan. Penegasan akan baseline dan df sebagai pembatas terjadinya leakage serta instrument untuk mengukur additionality menjadi hal mendasar yang harus disiapkan.

Anny Leonard membuat suatu animasi yang menggambarkan cap n trade. silahkan klik disini untuk melihat filmnya.





Senin, 26 September 2011

MODEL DINAMIKA CADANGAN KARBON DI ATAS PERMUKAAN DAN ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL PERDAGANGAN KARBON PADA PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI MENGGUNAKAN RIL

Nurdin Sulistiyono
(Mahasiswa Pascasarjana IPH-IPB)

MODEL DINAMIKA CADANGAN KARBON DI ATAS PERMUKAAN DAN ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL PERDAGANGAN KARBON PADA PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI MENGGUNAKAN RIL
(Contoh HPH PT. Sukma Jaya Makmur, Kalimantan Barat)

Summary
Pemanenan kayu konvensional merupakan teknik pemanenan kayu yang selama ini dipergunakan dalam pengelolaan hutan yang ditandai dengan sifat-sifat perencanaan yang kurang, penggunaan teknik pemanenan yang kurang tepat dan kurang terkontrol, serta kurang/tidak menerapkan teknik pemanenan kayu yang berpedoman pada TPTI.  Teknik penebangan secara konvensional telah mengakibatkan tingkat kerusakan pada tegakan tinggal.     

Kegiatan pemanenan kayu dan perlakuan silvikultur di hutan alam tropis dapat menimbulkan perubahan terhadap ekosistem hutan yang cukup besar.  Dampak dari kegiatan pemanenan kayu di hutan alam, antara lain mengakibatkan kerusakan vegetasi hutan (tegakan tinggal dan tumbuhan bawah) dan kerusakan tanah.  Hasil makalah (Davis, 2000; Elias, 2006; Keong, et al, 2006; Muhdi et al, 2006; Ramos et al, 2006; Butler, 2007) menyimpulkan bahwa dampak dari kegiatan pemanenan kayu dengan sistem TPTI mengakibatkan kerusakan tegakan tinggal sebesar 24 – 45% dan keterbukaan areal sebesar 20-35%.  Disamping itu kegiatan pemanenan kayu berperan dalam menurunkan cadangan karbon di atas permukaan tanah minimal 50%.  Di hutan tropis asia penurunan cadangan karbon akibat aktifitas pemanenan kayu berkisar antara 22-67% (Lasco, 2002; Butler, 2007).
Penerapan Reduce Impact Logging (RIL) akan mampu menurunkan tingkat kematian tegakan tinggal akibat penebangan.  RIL adalah suatu pendekatan sistematis dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi terhadap pemanenan kayu. RIL memerlukan wawasan ke depan dan ketrampilan yang baik dari operator serta adanya kebijakan tentang lingkungan yang mendukungnya.  Elias et al (2008) Alasan penerapan RIL adalah : (1).          Pengurangan resiko lingkungan dan sosial; (2).          Ekonomi; (3).          Pasar produk kehutanan; dan  (4).          Kebijakan dan penerapan yang tepat.
Dengan pendekatan pemodelan sistem, dilakukan analisis terhadap perubahan ekologi dan ekonomi perusahaan ketika mengembangkan RIL sebagai salah satu skenario pelaksanaan REDD. Hasil pemodelan disimpulkan bahwa (1).      Manfaat yang diperoleh dengan memberlakukan RIL lebih baik secara ekologi dan ekonomi dibandingkan CL; (2).      Kenaikan biaya akibat penerapan RIL masih lebih rendah dibandingkan dengan manfaat ekonomi dan ekologi yang akan diperoleh; (3).      Peningkatan cadangan karbon permukaan yang disimpan dalam tegakan hutan produksi pada RIL lebih besar dibandingkan CL; dan (4). Penerapan RIL berpotensi meningkatkan tambahan pendapatan pada saat REDD diberlakukan.

Rabu, 23 Februari 2011

METODOLOGI PENELITIAN DAN METODE PENELITIAN

Metodologi dan Metode Penelitian
OLEH
Dr. Ir. DIDIK SUHARJITO, MS
(DOSEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN IPB BOGOR)


Metodologi adalah suatu model, yang berisi prinsip teoretis maupun kerangka kerja yang memberikan pedoman tentang bagaimana penelitian dilakukan dalam konteks paradigma tertentu. Metode menunjuk pada peralatan atau instrumen yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data/informasi empiris: wawancara, dll.

KLIK DOWNLOAD UNTUK MEMPEROLEH POWERPOINT